Mengerti Tak Hanya Pintar.
Satu pelajaran dalam hidup manusia, yang terkadang dianggap tabu oleh sebagian manusia. Apalagi kalo bukan "Memanusiakan Manusia".
Mungkin kata itu terlalu kasar bahkan mungkin dirasa kurang etis ketika raja yang katanya berkuasa dimuka bumi ini dikata 'kurang manusia'. Ya, kata itu dirasa tepat untuk menggambarkan kondisi sesungguhnya dari bobroknya interaksi antar yang katanya manusia-manusia itu. Sekarang bisa kita awali dari Layakkah mereka di sebut manusia?? Tak perlu di jawab . Cukup di renungkan.
Apa sih definisi dari manusia itu sendiri? Apa hanya seonggok daging mentah yg bisa berjalan saja? Di tambah nilai plusnya yaitu bisa berpikir? Tunggu. . !! layakkah mereka di sebut bisa berpikir? Layak?? Bukankah manusia yg bisa berpikir sudah pasti akan bisa memanusiakan manusia? Dan kenyataannya lihatlah sendiri disekitar kita siapa yg bisa dikata bisa memanusiakan manusia. Tak perlu lah harus seratus persen . Hanya beberapa mili persen itu pun sudah meragukan.
Lantas siapa manusia itu sebenarnya? Khalifah di bumi? Ya memang itu tujuan awal di ciptakannya manusia oleh tuhan. Tapi bukankah kata itu terlalu indah, terlalu sempurna? Yaps, betul sekali. seharusnya kita malu bersembunyi di balik kata 'khalifah' itu. Sangat amat memalukan jika yang di kata khalifah tak mampu memannusia kan manusia yang di atas kertas ia adalah sama 'spesiesnya'.
Didalam catatan wikipedia ataupun kamus besar bahasa indonesia definisi manusia sudahlah gamblang . Kita bisa cari sendiri. Namun , cukup hanya sebatas itu untuk mendefinisikan manusia...? Yakin?? . Ya kalaupun sudah puas dengan definisi tersebut ya sudah. Toh untuk apa sih berbicara secara filsafat definisi manusia? Apa untungnya? . Wah, wahhhh. . sepertinya manusia yang berfikir begitu tak patut untuk di ajak bisa maju. Bagaimana mungkin manusia bisa memanusiakan manusia tanpa mengetahui arti dari manusia itu sendiri.
Menurut saya siapa manusia? Manusia adalah kita. Kita yang sudah bisa memanusiakan manusia. Bagaimanakah caranya. Sebenarnya kata itu terlalu rumit untuk di tulis lewat kata kata. Kita ambil contoh kecil saja. Ketika kita tak suka dengan seseorang lalu kita mengumpat dengan kata "anjinggggg. . !!" itu artinya sama dengan kita mengatakan 'itu adalah anjing bukan manusia'. Saya pertegas anjing = binatang. Dan sekarang orang itu bisa membuat kita mengumpat dengan begitu? Tentunya secara logika ia berbuat kesalahan. Kecuali kalo anda..? LOL. . .
Sekarang kita balik menjadi seorang yang mengumpat pada kita . Secara nalar kita di artikan?? BINATANG? Yaps, seratus.
Kesimpulannya adalah syarat agar kita bisa di sebut manusia adalah bisa memanusia kan manusia dengan cara hiduplah layaknya manusia. Contoh kecil di atas akibat dari kesalahan hingga manusia dikata sama dengan binatang. Lantas bagaimana masak kita tak boleh berbuat salah? Kita kan manusia, manusia kan tidak ada yang sempurna? . Yaps . . . Memang itubenar. Tapi apakah kita tak pernah berpikir bahwa orang yg selalu berbuat kesalahan yg sama jika pepatah jatuh di lubang yg sama adalah orang-orang yg bodoh dan merugi. Mau menjadi orang bodoh dan merugi?? Tentunya tidak. Disini penulis bukan menuntut yg ingin di sebut manusia itu tidak pernah berbuat kesalahan tapi alangkah lebih baik meminimalisir kesalahan yg kita perbuat senantiasa berhati-hati dalam bertindak , berpikir dan berkata.
Kenapa tiga hal itu penting? Dalam berkehidupan yang baik adalah bertindak yg benar, berpikir yg logis dan berkata yg bijak. Ketiganya adalah dasar dari berkehidupan. Semisal , hanya dengan satu komponen di atas tak terpenuhi menjadikan hidup jadi berantakan. Bagaimana mungkin itu kan hanya satu komponen. Walaupun hanya satu tapi dasar dan penting. Contoh : hanya karena berkata menjadikan musim istilah jeruk makan jeruk tranding topik di sosial media. Secara nalar sungguh sangat mustahil jeruk bisa memakan sesama jeruk. . ? Emang e ada jeruk yg punya mulut. ? Hehehe. . . Jangan di makan mentah gitu donk. Di sini jeruk di ibaratkan sebagai teman. Jadi teman makan teman. Yaps... Istilah itu semakin mendunia seiring berbagai topik masalah yg mewabah.
0 komentar:
Posting Komentar